Sabtu, 24 November 2012


Perbaikan Jalur KRL Butuh Dua Pekan

BOGOR– Peristiwa tanah longsor yang menyebabkan rel di Kilometer 45+500 Kampung Babakan Sirna, Desa Cilebut Timur, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor runtuh menjadikan layanan kereta rel listrik (KRL) dari Stasiun Bogor– Bojong Gede dan sebaliknya lumpuh.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) memperkirakan perbaikan memakan waktu hingga dua pekan. ”Selama itu pula,pelayanan KRL dari Bogor menuju Bojong Gede hingga Jakarta terganggu,” kata Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan di lokasi longsor kemarin. Jonan mengatakan, akibat rel terputus, 32 jadwal perjalanan KRL dibatalkan.” Sekitar 10% atau sekitar 30.000 penumpang, terutama asal Bogor, tidak terangkut per hari,”ujar dia.

Jonan memastikan, PT KAI dan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dan beberapa kontraktor pembangunan, berupaya cepat untuk memulihkan jalur. Kendati demikian, berdasarkan perhitungan tim teknis, perbaikan membutuhkan waktu cukup lama karena tingkat kerusakan yang parah. Dari data PT KAI, rel terputus di jalur antara Stasiun Bojong Gede–Cilebut sepanjang 200 meter dengan ketinggian tebing pada titik longsor mencapai 35 meter dan luas area longsor 12 meter. Hal ini menjadikan alat berat untuk memperbaiki sulit mencapai lokasi longsor.

”Berdasarkan hasil kajian sementara, untuk menormalkan jalur yang longsor dibutuhkan 35.000 meter kubik tanah,”kata dia. Hujan deras yang mengguyur Bogor, Rabu (21/11) petang, menjadikan tanah penyangga rel di Km 45 ambrol. Diduga kuat,tanah ambles karena terendam air sejak Sabtu (17/11). Tanah longsor juga mengakibatkan tiga listrik aliran atas (LAA) dan lima tiang beton listrik ambruk. Kepala Humas PT KAI Sugeng Priyono mengungkapkan, penanganan tahap pertama atas rel runtuh itu, PT KAI mengerahkan sedikitnya 150 petugas untuk memutus kabel, memotong tiang listrik yang melintang, dan mengeruk/ meratakan tanah longsoran.

”Kita mengerahkan dua alat berat menggunakan kontainer. Namun, ini memakan waktu berjam-jam karena terkendala medan,”ujar dia. Manajer Komunikasi PT KCJ Eva Chairunisa menambahkan, untuk mengembalikan rel seperti semula, pihaknya akan menimbun tanah dan membangun penyangga untuk mencegah peristiwa serupa terulang. “KCJ bersama KAI akan melakukan upaya pemulihan perjalanan secepat mungkin. Meski demikian,kita juga memastikan bahwa bangunan yang baru akan mampu menahan longsor,”ucapnya. Disinggung soal kerugian yang diderita PT KCJ, dia mengaku belum menghitung. “Kita belum sampai tahap itu karena fokus sekarang adalah memulihkan jalur,”ucapnya.

Penumpang Membeludak

Akibat longsor, terjadi penumpukan calon penumpang di Stasiun Bojong Gede. Pantauan di lapangan kemarin menunjukkan, ribuan calon penumpang memadati peron. Kepadatan yang cukup parah terlihat pada jadwal pemberangkatan pertama dari Bojong Gede menuju Jakarta. Kepala Stasiun Bojong Gede Tiyono mengatakan, penumpukan calon penumpang disebabkan Stasiun Bojong merupakan stasiun terdekat dari Stasiun Bogor.”Membeludaknya penumpang karena limpahan penumpang asal Bogor,”ungkapnya.

Situasi ini juga memunculkan permasalahan baru. Perjalanan kereta sering tidak sesuai jadwal. ”Sementara ini hanya menggunakan satu jalur, jadi kereta harus tertahan di Stasiun Depok untuk menunggu giliran,”jelasnya. Kekacauan itu tak pelak dikeluhkan calon penumpang. Santi, 32, warga Kebon Pedes, Kota Bogor, terpaksa tidak masuk kerja karena kereta telat.Belum lagi dia harus mengeluarkan uang Rp30.000 untuk sewa ojek dari Stasiun Cilebut menuju Stasiun Bojong Gede yang hanya berjarak 5 kilometer. ”Namun sampai sini, kereta belum juga datang,”kata dia.

Hal senada diungkapkan Ane, 26, warga Kota Bogor yang kecewa karena kereta commuter line yang melayani jurusan Tanah Abang hanya sampai Stasiun Manggarai dan Depok. ”Jadwal di Bojong tidak sesuai waktu pemberangkatan dan terjadi perbedaan rute. Ini membuat saya terlambat sampai kantor,”katanya. Lumpuhnya jalur KRL Bogor–Bojong Gede juga berimbas pada kemacetan di ruas jalan raya Bogor–Bojong Gede maupun sebaliknya.Kemacetan cukup parah terjadi pada pagi hari. Antrean kendaraan mencapai 10 kilometer mulai simpang Sholeh Iskandar– Cilebut–Bojonggede hingga Citayam.

Kemacetan disebabkan selain karena sempitnya badan jalan dengan lebar lima meter, juga disebabkan masuknya kontainer yang mengangkut alat berat (beko). ”Saya terhenti satu jam menuju Stasiun Bojong Gede yang tinggal 1 kilometer lagi, akibat kendaraan berat evakuasi yang akan ke lokasi,” ungkap Suhardi, 25,warga Tanah Sareal yang naik motor hendak ke Stasiun Bojong Gede. Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menginstruksikan PT KAI segera memperbaiki jalur kereta yang rusak akibat bencana alam.

”Kereta api merupakan sarana angkutan umum rakyat. Karena itu, kami instruksikan agar segera diperbaiki (rel yang rusak),” kata Dahlan di Sukabumi kemarin.

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/news/perbaikan-jalur-krl-butuh-dua-pekan 

ANALISIS :
Bencana alam memang tak pernah dapat di perkirakan sebelumnya. Sayangnya tindakan preventif yang telah dilakukan ternyata tidak dapat mencegah kerusakan yang terjadi. Akhirnya pemerintah dan masyarakat (khususnya konsumen KRL) pula yang harus bersabar dan berkorban untuk perbaikan sarana umum tersebut. Pemerintah menyediakan anggaran baru untuk perbaikan sarana sedangkan para konsumen harus beralih ke sarana lain yang tentunya lebih memakan banyak biaya dan waktu karena KRL adalah sarana transportasi umum yang tercatat paling efisien dari segi biaya dan waktu bagi para konsumen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar