BOGOR– Peristiwa tanah longsor yang menyebabkan rel di Kilometer 45+500
Kampung Babakan Sirna, Desa Cilebut Timur, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten
Bogor runtuh menjadikan layanan kereta rel listrik (KRL) dari Stasiun
Bogor– Bojong Gede dan sebaliknya lumpuh.
PT Kereta Api Indonesia
(KAI) memperkirakan perbaikan memakan waktu hingga dua pekan. ”Selama
itu pula,pelayanan KRL dari Bogor menuju Bojong Gede hingga Jakarta
terganggu,” kata Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan di lokasi longsor
kemarin. Jonan mengatakan, akibat rel terputus, 32 jadwal perjalanan KRL
dibatalkan.” Sekitar 10% atau sekitar 30.000 penumpang, terutama asal
Bogor, tidak terangkut per hari,”ujar dia.
Jonan memastikan, PT
KAI dan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) bekerja sama dengan Direktorat
Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dan beberapa kontraktor
pembangunan, berupaya cepat untuk memulihkan jalur. Kendati demikian,
berdasarkan perhitungan tim teknis, perbaikan membutuhkan waktu cukup
lama karena tingkat kerusakan yang parah. Dari data PT KAI, rel terputus
di jalur antara Stasiun Bojong Gede–Cilebut sepanjang 200 meter dengan
ketinggian tebing pada titik longsor mencapai 35 meter dan luas area
longsor 12 meter. Hal ini menjadikan alat berat untuk memperbaiki sulit
mencapai lokasi longsor.
”Berdasarkan hasil kajian sementara,
untuk menormalkan jalur yang longsor dibutuhkan 35.000 meter kubik
tanah,”kata dia. Hujan deras yang mengguyur Bogor, Rabu (21/11) petang,
menjadikan tanah penyangga rel di Km 45 ambrol. Diduga kuat,tanah ambles
karena terendam air sejak Sabtu (17/11). Tanah longsor juga
mengakibatkan tiga listrik aliran atas (LAA) dan lima tiang beton
listrik ambruk. Kepala Humas PT KAI Sugeng Priyono mengungkapkan,
penanganan tahap pertama atas rel runtuh itu, PT KAI mengerahkan
sedikitnya 150 petugas untuk memutus kabel, memotong tiang listrik yang
melintang, dan mengeruk/ meratakan tanah longsoran.
”Kita
mengerahkan dua alat berat menggunakan kontainer. Namun, ini memakan
waktu berjam-jam karena terkendala medan,”ujar dia. Manajer Komunikasi
PT KCJ Eva Chairunisa menambahkan, untuk mengembalikan rel seperti
semula, pihaknya akan menimbun tanah dan membangun penyangga untuk
mencegah peristiwa serupa terulang. “KCJ bersama KAI akan melakukan
upaya pemulihan perjalanan secepat mungkin. Meski demikian,kita juga
memastikan bahwa bangunan yang baru akan mampu menahan longsor,”ucapnya.
Disinggung soal kerugian yang diderita PT KCJ, dia mengaku belum
menghitung. “Kita belum sampai tahap itu karena fokus sekarang adalah
memulihkan jalur,”ucapnya.
Penumpang Membeludak
Akibat
longsor, terjadi penumpukan calon penumpang di Stasiun Bojong Gede.
Pantauan di lapangan kemarin menunjukkan, ribuan calon penumpang
memadati peron. Kepadatan yang cukup parah terlihat pada jadwal
pemberangkatan pertama dari Bojong Gede menuju Jakarta. Kepala Stasiun
Bojong Gede Tiyono mengatakan, penumpukan calon penumpang disebabkan
Stasiun Bojong merupakan stasiun terdekat dari Stasiun
Bogor.”Membeludaknya penumpang karena limpahan penumpang asal
Bogor,”ungkapnya.
Situasi ini juga memunculkan permasalahan
baru. Perjalanan kereta sering tidak sesuai jadwal. ”Sementara ini hanya
menggunakan satu jalur, jadi kereta harus tertahan di Stasiun Depok
untuk menunggu giliran,”jelasnya. Kekacauan itu tak pelak dikeluhkan
calon penumpang. Santi, 32, warga Kebon Pedes, Kota Bogor, terpaksa
tidak masuk kerja karena kereta telat.Belum lagi dia harus mengeluarkan
uang Rp30.000 untuk sewa ojek dari Stasiun Cilebut menuju Stasiun Bojong
Gede yang hanya berjarak 5 kilometer. ”Namun sampai sini, kereta belum
juga datang,”kata dia.
Hal senada diungkapkan Ane, 26, warga Kota
Bogor yang kecewa karena kereta commuter line yang melayani jurusan
Tanah Abang hanya sampai Stasiun Manggarai dan Depok. ”Jadwal di Bojong
tidak sesuai waktu pemberangkatan dan terjadi perbedaan rute. Ini
membuat saya terlambat sampai kantor,”katanya. Lumpuhnya jalur KRL
Bogor–Bojong Gede juga berimbas pada kemacetan di ruas jalan raya
Bogor–Bojong Gede maupun sebaliknya.Kemacetan cukup parah terjadi pada
pagi hari. Antrean kendaraan mencapai 10 kilometer mulai simpang Sholeh
Iskandar– Cilebut–Bojonggede hingga Citayam.
Kemacetan
disebabkan selain karena sempitnya badan jalan dengan lebar lima meter,
juga disebabkan masuknya kontainer yang mengangkut alat berat (beko).
”Saya terhenti satu jam menuju Stasiun Bojong Gede yang tinggal 1
kilometer lagi, akibat kendaraan berat evakuasi yang akan ke lokasi,”
ungkap Suhardi, 25,warga Tanah Sareal yang naik motor hendak ke Stasiun
Bojong Gede. Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan
menginstruksikan PT KAI segera memperbaiki jalur kereta yang rusak
akibat bencana alam.
”Kereta api merupakan sarana angkutan umum
rakyat. Karena itu, kami instruksikan agar segera diperbaiki (rel yang
rusak),” kata Dahlan di Sukabumi kemarin.
Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/news/perbaikan-jalur-krl-butuh-dua-pekan
ANALISIS :
Bencana alam memang tak pernah dapat di perkirakan sebelumnya. Sayangnya tindakan preventif yang telah dilakukan ternyata tidak dapat mencegah kerusakan yang terjadi. Akhirnya pemerintah dan masyarakat (khususnya konsumen KRL) pula yang harus bersabar dan berkorban untuk perbaikan sarana umum tersebut. Pemerintah menyediakan anggaran baru untuk perbaikan sarana sedangkan para konsumen harus beralih ke sarana lain yang tentunya lebih memakan banyak biaya dan waktu karena KRL adalah sarana transportasi umum yang tercatat paling efisien dari segi biaya dan waktu bagi para konsumen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar