Minggu, 25 November 2012


Menhut Soroti Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan

MALANG--MICOM: Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menegaskan  deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan ketersediaan bahan baku industri kehutanan berkurang. Akibatnya, permintaan kayu dunia yang tinggi tidak dapat dimanfaatkan industri perkayuan Indonesia.

"Dahulu yang dilakukan bukannya mendorong penyediaan sumber bahan baku yang lestari, tapi malah melakukan penebangan liar," kata Zulkifli saat memberikan pidato ilmiah dalam Sidang Senat Terbuka sekaligus Wisuda Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu (24/11).

Menurutnya, deforestasi dan degradasi hutan harus segera dihentikan demi pembangunan ekonomi Indonesia berkelanjutan. Ia pun mengungkapkan, pembangunan ekonomi kehutanan di masa depan terbagi dua yakni industri kehutanan berbasis hutan tanaman dan taman nasional.

Untuk pembangunan hutan tanaman, lanjut Zulkifli, dibutuhkan investasi swasta senilai Rp1.500 triliun. Menurutnya, peran pemerintah terkait pembangunan hutan tanaman adalah dengan membagikan bibit tanaman kepada kebun bibit rakyat (KBR).

Ia lalu menyebutkan, dari struktur industri perkayuan yang lestari dan bermitra dengan petani atau KBR, target devisa yang akan diperoleh pada 2025 sebesar US$77 miliar atau 10 kali devisa tahun 2010.

Di samping itu, industri perkayuan ini juga mampu menyerap tenaga kerja sebesar 9,3 juta orang dan memberikan akses kawasan hutan seluas 5 juta hektare untuk hutan tanaman rakyat (HTR).

Terkait pembangunan taman nasional, ia menyatakan investasi swasta dan publik yang dibutuhkan sebesar Rp27,1 triliun. Dengan investasi ini, proyeksi devisa yang akan diperoleh sebesar Rp39,77 triliun.

Zulkifli optimistis pembangunan taman nasional mampu menyerap tenaga kerja baru sebesar 6 juta orang yang sebagian besar adalah masyarakat yang ada di dalam dan di sekitar hutan.

"Skenario ini kami susun sesuai pro growth, pro job, pro poor, dan pro environment karena kan dilakukan penanaman terus-menerus sehingga pembangunan ekonominya berkelanjutan," tukasnya.

Lebih jauh ia mengatakan keunggulan komparatif hutan alam tropis Indonesia seharusnya dapat dijadikan modal ekonomi untuk meningkatkan peran sektor kehutanan.

Menurutnya, jenis-jenis kayu komersial seperti meranti, merbau, kayu kapur, dan ulin merupakan jenis kayu dengan harga jual yang sangat kompetitif karena ciri dan ketahanannya terkenal di pasar dunia. Harga jual kayu meranti, lanjut Zulkifli, per hektarenya minimal bisa mencapai Rp300 juta per tahun.

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/read/2012/11/24/365171/4/2/Menhut-Soroti-Pembangunan-Ekonomi-Berkelanjutan

ANALISIS :
Bagi saya sebenarnya sektor kehutanan memiliki prospek yang bagus untuk pertumbuhan perekonomian. Namun yang disayangkan kurangnya perhatian di sektor tersebut. Semakin maraknya penebangan liar tentunya menjadi pekerjaan yang harus cepat di atasi. Serta sosialisasi kegiatan menanam semakin pula digiatkan. Karena Indonesia memiliki keunggulan komparatif hutan alam tropis yang dapat dijadikan modal untuk meningkatkan peran sektor kehutanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar